Chechnya Tetapkan Pakaian Sopan, Aktivis HAM Berang

Pemerintah Checnya meluncurkan peraturan baru tentang pakaian sopan bagi para wanita. Di antaranya, ia mengharuskan kaum wanita untuk memakai jilbab dan pakaian panjang dan tertutup di tempat umum, termasuk di kantor, sekolah, universitas, tempat hiburan, bioskop dan tempat terbuka lain.

Pemimpin Chechnya di Rusia, Ramzan Kadyrov  meminta para wanita untuk menghargai aturan berpakaian secara Islam dan akan menghukum para pelanggarnya.

Petugas juga menyebar selebaran yang memperingatkan wanita bahwa mereka bakal terkena hukuman bila tidak memenuhi aturan. Masalahnya,  pertengahan 2010, para petugas membawa  paintball guns (semacam senjata gas standard berpeluru cat, yang diperkirakan hanya berdampak pada memar) yang menyasar puluhan wanita di Grozny, ibukota Chechen karena mereka memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuh.

Seorang wanita tanpa identitas mendapatkan pengalaman merasakan ‘tembakan” cat. “Kami berpakaian sederhana tetapi tidak menutupi jilbab, lengan baju sedikit di atas siku, rok sedikit di bawah lutut,” katanya.  Tiba-tiba sebuah mobil tanpa plat nomor berhenti di sampingnya dan ada sejenis ‘senapan’  diarahkan padanya. ”Saya pikir itu benar-benar sebuah senapan, dan ketika aku mendengar tembakan saya pikir, ‘ini adalah kematian’. Saya merasa ada sesuatu memukul saya di dada,  seperti dilemparkan pada dinding bangunan. Sengatan itu mengerikan, seolah-olah payudara saya ditusuk jarum  panas. Tapi saya tidak pingsan dan tiba-tiba melihat beberapa tumpahan hijau aneh pada dinding dan noda hijau besar ini juga berkembang di blus saya. Saya baru tahu,  hal itu hanyalah cat, ” ujar wanita itu dikutip The Christian Science Monitor.

Aksi penggunaan paintball ini tentu saja menjadi makanan empuk aktivis Human Rights Watch. Ahtivis HAM ini menilai, upaya menegakkan aturan berpakaian secara islami telah melanggar hukum di Rusia. Kadyrov sendiri menyanggah dengan menegaskan, ia sengaja memerintahkan instruksi untuk etika berpakaian guna melindungi wanita Chechen agar berpakaian sederhana yang sejalan dengan hukum di Rusia.

Kekhawatiran Hukum Islam

Tak hanya itu, penggunakan peraturan pakaian sopan bagi wanita Muslim ini rupanya sangat menghawatirkan para pemuja HAM dan aktivis perempuan. Rupanya, para aktivis perempuan Rusia memanfaatkan isu kekeliruan Kadyrov dalam penggunaan paintball untuk menekan Kremlin menggagalkan peraturan jilbab. Lebih dikhawatirkan lagi berlakunya hukum Islam.

“Pada sebagian besar wilayah Chechnya itu adalah hukum syariah yang beroperasi, dan bukan hukum Federasi Rusia,” kata Valentina Terevatenko, Kepala Independent Women’s Union (IWU) di kota Novocherkassk, yang juga memiliki hubungan dekat dengan aktitivis perempuan Chechnya. Ia bahkan membenturkan masalah ini dengan masalah terorisme.

“Saya pikir keheningan pihak berwewenang Rusia dalam masalah ini dapat dijelaskan oleh urgensi perang atas terorisme. Mereka sedang membeli ketenangan di Chechnya atas biaya hak asasi manusia, termasuk yang perempuan.”

Alexei Mukhin, direktur Pusat Informasi Independen Politik di Moskow mengatakan, ketidakpastian politik di Moskow atas apakah Presiden Dmitry Medvedev atau Putin benar-benar bertanggung jawab bisa memungkinkan Kadyrov meraih lebih banyak kekuatan di Chechnya, termasuk kalangan Muslim dan Gereja Ortodoks sendiri.

“Kadyrov telah berhasil mencapai sebagian besar dari apa yang separatis Chechnya inginkan, tetapi ia telah mendapatkannya dengan cara hukum,” kata Mr Mukhin. “Yang harus ia lakukan adalah menampilkan loyalitas luar, dan Putin memungkinkan dia melakukan [di Chechnya] apapun yang dia inginkan.”

Kremlin sudah berjuang melawan dua perang melawan para pejuang Chechnya selama 17 tahun ini, yang dimaksudkan mampu memaksa Muslim Chechnya tetap di bawah kedaulatan Rusia. Dua tahun lalu Moskow bahkan mengklaim diri meraih kemenangan dan menarik kembali seluruh tentaranya di wilayah itu dan meninggalkan Chechnya di bawah kontrol Kadyrov.

Red: Fani
Sumber: Hidayatullah

author
No Response

Leave a reply "Chechnya Tetapkan Pakaian Sopan, Aktivis HAM Berang"